Corona Ngae Sengsara

Opinijpg.jpg
5.00
(one vote)
Title (Other local language)
Photograph by
Bayu Septianto
Reference for photograph
Protokol kesehatan
Author(s)
Subject(s)
  • Pemerintah
  • Masyarakat
  • Milenial
  • Pemuda
Reference
Related Places
Bali
Event
Related scholarly work
Covid-19Covid-19
Reference
Competition
opini


You are not allowed to post comments.

Entered in the opini Wikithon

Description


In English

Since Corona undermined the world, a lot of people who were anxious and bored because they did not have income. Workplaces are closed, students on holidays, all types of work are now done from home. Work from home, school from home, shopping also from home. Lots of people feel disadvantaged. The community feels that Corona only benefits health agencies. Just a little sneezing Corona had said, just coming out just a little snot was called Corona. In the thought of the Corona community solely, it is only profitable for the government. Right like that?

Just now the government issued a program called PPKM, already on the demo, many have made a strange status on social media like Facebook, Instagram, and so on. Like, "I work to eat tomorrow, I work to eat every day, I'm not the same as government children, not the same as an artist who still has savings for backup". Gosh, I'm very embarrassed to read things like that. As if the government makes us very miserable. Never thought what did the government mean issuing such a program?

Come on, think about, if the community is given freedom. Allowed to come out there are unclear distinct care, can it be ascertained that out there we will always survive this disease? If you really want this world to recover quickly, let's try together. If you want to quickly tour the tourism sector normally as usual, if you want to hang out with friends like before. Take examples of the tourism sector. We both know if the island of Bali is famous for its beauty and attraction of the pariwaya. Many domestic and foreign tourists are competing to vacation in the Island of the Gods. That is what caused many of the Balinese people who complained about their destination in the tourism sector. But it used to be, if the condition of the island of the gods is like now, it feels a bit of a tourist who dares to take the risk of on vacation to Bali. If you get sick here, then don't get treatment because the hospital is full. He also saw that many people were not obedient to the health protocol. It can be ascertained that tourists prefer on vacation to other places that guarantee that can guarantee its security. If this is what you deserve to be blamed? Therefore, come on together to work together to apply the health protocol. Apply 3M, namely keeping distance, wash hands, and wear a mask. Don't be stubborn, if not we then who else should try? If only praying, but not accompanied by effort, of course, it can be ascertained that the world will continue like this. If we are aware, we obey, and we are always vigilant. You can be sure the world will recover quickly.

In Balinese

Sekate corona nguyak gumi, bek sajan anake uyang tur ingguh krana tusing ngelah penghasilan. Tongos megae di tutup, murid pade libur, sekancan geginan jani kagarap uli jumah. Megae uli jumah, masuk uli jumah, mabelanja masi uli jumah. Bek sajan masyarakat sane ngerase dirugikan. Masyarakat merasa yening Corona wantah menguntungkan instansi kesehatan. Mara mebangkesan bedik sube orahange Corona, mare pesu tenges abedik suba masi keadanin Corona. Di keneh masyarakate Corona wantah menguntungkan tenaga pemerintah. Saje keto?

Mare pemerintah mesuang program sane madan PPKM, suba pada demo, suba pade ngae status tawah-tawah di media sosial care Facebook, Instagram, miwah ane lenan. Minakadi, Tiang megae anggon medaar buin mani, tiang megae anggon makan sewai-wai. Tiang ten patuh care panakan pemerintah, ten patuh care artis sane liu ngelah tabungan anggo cadangan buin mani . Mimih ratu, lek sajan tiang mace ane keto-keto. Seolah-seolah pemerintah ngaenang irage lara gatinan. Taen sing mikir ape maksud pemerintahe mesuang program kaketo?

Ngiring kenehang, yen masyarakat baange bebas. Baange pesu kemu mai gradag-grudug sing karoan, napike ngidaang mastiang lakar setata selamat ring geringe puniki. Yen seken dot enggal gumine melah, ngiring sareng-sareng mautsaha. Yen dot enggal pariwisatane normal, yen dot nongkrong-nongkrong ajak timpale rame-rame care pidan. Jemak contoh uli sektor pariwisata. Irage pade nawang yening jagad Bali sampun terkenal dengan keindahan tur daya tarik pariwisatane. Akeh para turis-turis domestik miwah mancanegara sane melali ka gumi Bali. Nika mawinan akeh jadma Baline sane ngaduang nasib di sektor pariwisata. Nanging ento dugase pidan, yen kenehang ring situsi pulo Dewatane sekadi mangkin, asanange bedik wisatawane ane bani nyemak resiko melali ka Bali. Yen gelem dini, lantas sing maan perawatan ulian rumah sakite kabekan. Tingaline masi bek sajan masyarakate sane ten manut ring protokol kesehatan. Ngidaang ngemastiang yening wisatawane lebih memilih melali ka tongos sane lebih aman tur menjamin keselamatan. Yen sube keto nyen sane pelihang? Duaning kadi asapunika ngiring ajak makejang bahu-membahu ngelimbakang ane madan protokol kesehatan. Terapkan 3M inggih punika, menjaga jarak, mencuci tangan, tur memakai masker. De bengkung, yen tusing irage sane mautsaha nyen ane ka tunden? Yening berdoa, nanging ten kairingin utsaha pastike tileh gumine care jani. Yening sube iraga sadar, iraga taat, tur iraga waspada, astungkara gumine kancan dados becik.

In Indonesian

Semenjak Corona menggerogoti dunia, banyak sekali orang-orang yang resah dan bosan sebab tidak mempunyai penghasilan. Tempat kerja ditutup, murid-murid pada libur, semua jenis pekerjaan sekarang dikerjakan dari rumah. Kerja dari rumah, sekolah dari rumah, berbelanja juga dari rumah. Banyak sekali masyarakat yang merasa dirugikan. Masyarakat merasa bahwa Corona hanya menguntungkan instansi kesehatan. Baru bersin sedikit saja sudah dikatakan Corona, baru keluar ingus sedikit saja juga sudah dinamakan Corona. Di pemikiran masyarakat Corona semata-mata hanyalah menguntungkan pemerintah. Benar seperti itu?
   Baru saja pemerintah mengeluarkan program yang bernama PPKM, sudah pada demo, sudah banyak yang membuat status aneh-aneh di media sosial seperti Facebook, Instagram, dan lain sebagainya. Seperti, "Saya bekerja untuk makan di hari esok, saya bekerja untuk makan setiap hari, saya tidak sama dengan anak pemerintah, tidak sama pula seperti artis yang masih mempunyai tabungan untuk cadangan". Astaga, malu sekali saya membaca hal-hal seperti itu. Seolah-seolah pemerintah membuat kita sangat sengsara. Pernah tidak berpikir apa maksud pemerintah mengeluarkan program seperti itu?
Ayo pikirkan, jikalau masyarakat diberikan kebebasan. Diizinkan untuk keluar kesana-kemari kelayapan tidak jelas, apakah bisa dipastikan bahwa diluar sana kita akan selalu selamat dari penyakit ini? Kalau benar menginginkan agar dunia ini cepat pulih, ayo berusaha bersama-sama. Kalau mau cepat sektor pariwisata normal seperti sedia kala, kalau ingin nongkrong-nongkrong dengan teman seperti dulu kala. Ambil contoh dari sektor pariwisata. Kita sama-sama tau jika pulau Bali terkenal dengan keindahan dan daya tarik pariwisatanya. Banyak para wisatawan domestik dan mancanegara yang berlomba-lomba untuk berlibur ke pulau Dewata. Hal itulah yang menyebabkan banyak orang-orang Bali yang mengadukan nasibnya pada sektor pariwisata. Tapi itu dulu, jika dipikirkan kondisi pulau Dewata seperti sekarang ini, rasanya sedikit wisatawan yang berani mengambil resiko untuk berlibur ke Bali. Kalau sakit disini, lalu tidak mendapatkan perawatan sebab rumah sakit kepenuhan. Dilihatnya pula banyak masyarakatnya yang tidak patuh kepada protokol kesehatan. Bisa dipastikan bahwa para wisatawan lebih memilih berlibur ke tempat yang lain yang menjamin yang bisa menjamin keamanannya. Kalau sudah begini siapa yang pantas disalahkan? Oleh sebab itu ayo sama-sama bahu-membahu untuk menerapkan protokol kesehatan. Terapkan 3M yaitu menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker. Jangan bandel, kalau bukan kita lantas siapa lagi yang harus berusaha? Jikalau hanya berdoa, akan tetapi tidak dibarengi dengan usaha tentu dapat dipastikan bahwa dunia akan terus seperti ini. Kalau sudah kita sadar, kita taat, dan kita selalu waspada. Bisa dipastikan dunia akan lekas pulih.

Makassarese