Do we like dirty environments? Can we live in a dirty environment? A dirty environment indirectly and without us realizing it, will create negative energy that can disrupt our lives and make us feel uncomfortable. So stop littering.
For example, at the Besakih Temple some time ago, many visitors to the temple left their trash unattended and seemed to have no sense of ownership over their trash. What really happened and what small steps can be taken to overcome it? To answer that, we can follow the example of Singapore, which was notoriously dirty when it was not yet a developed country like it is now. In the past, Singapore was very dirty because its people liked to litter and also spit. Then what concrete steps were taken by Lee Kuan Yew as a figure who advanced Singapore? He collaborated with young people to be conscious and independent in participating related to cleanliness and health. Young people are mobilized to want to speak out regarding cleanliness and health, especially from their small environment, namely in the family. The results we can see together that Singapore has advanced so rapidly in the past few decades that today it has succeeded in becoming a developed country and is one of the countries that we know is so clean and respectful of its hygiene regulations. This is a small idea that can be done in Bali so that we can start this clean mindset from the smallest environment, namely the family environment and hopefully when the small thing reaches its biggest point, Bali can become a much cleaner island and respect its beautiful nature.
Apakah kita suka dengan lingkungan yang kotor? Apakah kita bisa hidup dalam lingkungan yang kotor? Lingkungan yang kotor secara tidak langsung dan tanpa kita sadari, akan menciptakan energi negatif yang bisa mengganggu kehidupan kita dan membuat kita merasa tidak nyaman. Maka berhentilah membuang sampah sembarangan.
Contohnya seperti di Pura Besakih beberapa waktu yang lalu. Pemedek pura sangat banyak yang meninggalkan sampahnya begitu saja dan seperti tanpa rasa kepemilikan terhadap sampahnya. Apa yang sebenenarnya terjadi dan apa langkah kecil yang bisa dilakukan untuk mengatasi itu? Untuk menjawab hal itu, kitab isa mencontoh negara Singapura yang dulu terkenal jorok ketika belum menjadi negara maju seperti sekarang. Di jaman dulu, Singapura sangatlah jorok karena masyarakatnya senang membuang sampah sembarangan dan juga meludah. Lalu bagaimana langkah konkrit yang diambil oleh Lee Kuan Yew sebagai tokoh yang memajukan Singapura? Beliau menggandeng anak muda untuk mau secara sadar dan mandiri dalam berpartisipasi terkait kebersihan dan kesehatan. Anak muda dikerahkan untuk mau bersuara terkait kebersihan dan kesehatan terutama dari lingkungan kecilnya yaitu di keluarga. Hasilnya bisa kita lihat bersama bahwa Singapura maju begitu pesat dalam beberapa puluh tahun ke belakang ini hingga saat ini berhasil menjadi negara maju dan menjadi salah satu negara yang kita tau begitu bersih dan hormat terhadap peraturan kebersihannya. Inilah ide kecil yang mungkin dapat dilakukan di Bali agar kita dapat memulai pola pikir bersih ini sedari lingkungan yang terkecil yaitu lingkungan keluarga dan semoga ketika hal kecil tersebut sampai ke titik terbesarnya, Bali bisa menjadi pulau yang jauh lebih bersih dan menghormati alamnya yang indah.
Enable comment auto-refresher