Gumi Duur Ambun

Gumi Duur Ambun.jpg
0.00
(0 votes)
Title
Gumi Duur Ambun
Related Places
    Writer(s)
    • I Nyoman Diana
    Photographer(s)
      Reference
      Photo Credit
      Video Credit
      Wikithon competition
      Caption

      Description


      In English

      Earth on dew, as they say. It is very cool in this area which is why people like to come here. Not only local guests, brothers from the west side also came here a lot. Everyone Amazed by the beauty of Mount Batur and Lake Batur, many people also take the time to taste the sweetness of Kintamani oranges. Traffic jams were not spared because there were many vehicles taking guests around on the road, so my head was dizzy to see it. But all that was in the past, before the Corona virus existed on this earth. Now, it's hard to find guests who come to see the beauty of Kintamani from Penelokan. It doesn't exist anymore, because no one dares to go out for a walk. The bracelet seller who usually goes around offers bracelets to guests who are traveling. Even though in the foggy conditions, now many have switched professions to look for other jobs. There are no more cycling tourists passing in front of the house and I always say "hello !!" . Now only the Banjaran brothers and sisters are passing by in front of the house cycling looking for sweat. Oranges are also piling up every day because there are no purchases. Hahh, until when the earth is lonely like this?

      In Balinese

      Gumi duur ambun, keto anake ngorahang. Tis saja tis gumine dini ngawinang liu anake demen malila cita mai. Tusing ja tuah tamu lokal, nyama-nyama uling dauh jurang masi liu mai. Angob teken kaluihan gunung lan danu Bature, keto masi liu ane nyelaang mai apang maan ngasanin manisne sumaga KIntamani. Makaluk-kalukan montor ngajak tamiu-tamiune pasliwer di jalane, kanti bungeng sirah tiange nolih. Sakewala, unduke ento tuah dugas pidan. Satonden ada virus korona di gumine. Jani, ija alih tamiune rame dengak-dengok di Penelokan. Suba tusing ada, sawireh tusing ada anake bani pesu malali. Dagang gelang ane biasa ngalindeng nanjenin tamiu ane sedek malali apang meli gelangne diastun kabute gede, jani suba liunan ngalih gae lenan. Suba tusing ada masi turis masepedaan ane sai halo-haloin tiang yen mentas di aep umahe. Jani, paling keras nyama-nyama banjarane dogen mentas masepedaan ngalih peluh. Keto masi Juuke, jani mudah mablokblakan ulian tusing ada pengiriman kone. Hah, kanti bin pidan lakar kene sepi gumine?

      In Indonesian

      Bumi di atas embun , seperti itu kata orang . Memang sangat sejuk di daerah ini karena itulah banyak orang suka datang kesini . Bukan hanya tamu lokal, saudara-saudara dari sisi barat juga banyak datang kemari. Semua Takjub dengan keindahan gunung Batur dan danau batur, banyak orang juga meluangkan waktunya untuk mencicipi manisnya jeruk Kintamani. Macet pun tak terhindar karena banyak kendaraan yang mengantar tamu-tamu keliling di jalan, sampai-sampai kepala saya pusing liatnya. Tetapi semua itu waktu dulu, sebelum virus Corona ada di bumi ini . Sekarang, susah mencari tamu yang datang melihat indahnya kintamani dari penelokan . Sudah tidak ada, karena tidak ada orang yang berani keluar jalan-jalan. Penjual gelang yang biasanya keliling menawarkan gelang kepada tamu yang sedang jalan-jalan Walaupun dalam dituasi berkabut, sekarang sudah banyak beralih profesi mencari pekerjaan yang lain. Sudah tak ada lagi turis bersepeda yang lewat di depan rumah dan yang selalu ku sapa "hallo!!" . Sekarang hanya saudara-saudara Banjaran disini saja yang melintas depan rumah bersepeda mencari keringat . Jeruk juga makin hari makin menumpuk karena tak ada pembelian. Hahh, sampai kapan bumi sepi seperti ini?