Yama Purana Tattwa

Yama purana.jpg
Name of Lontar
Yama Purana Tattwa
Identification
Lontar
Photo Reference
Location
Wanasari
Credit
Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari
Reference
https://ibgwiyana.wordpress.com/2012/04/13/yama-purana-tatwa/
Background information

    Summary


    In English

    [EN] There are various events that cause people to die. There are people who die naturally due to age, there are those who die from illness even though they are young. In many instances, some die because of accidents, natural disasters or being killed. The most unfortunate thing is that it was suicide.

    According to Yama Purana Tattwa, reasonable death is referred to as starch, whereas death due to accident, disaster or because of an animal is called wrong starch. Death due to murder or suicide is called starch. The ways in which humans deal with death have different effects on the consciousness of the spirit after death. The spirits of people who die naturally are different from those of those who die in accidents or commit suicide. Lontar Yama Purana Tattwa gives a category of these types of death and describes the state of a person's spirit if he dies in a certain way.

    Lontar Yama Purana Tattwa is a collection of dialogues between Lord Yama, the lord of death, and the great rsi in Janaloka. This ejection also mentions deaths due to landslides, which must be made a special ceremony so that the spirits that die do not turn into preta, or ghosts. This ejection also mentions the order of death ceremonies for people who died naturally and unnaturally.

    In Balinese

    In Indonesian

    [ID] Ada berbagai kejadian yang menyebabkan orang meninggal. Ada orang yang meninggal secara wajar karena faktor usia, ada yang meninggal karena sakit walaupun masih muda. Dalam banyak kejadian, ada pula yang menemui ajal karena kecelakaan, bencana alam atau dibunuh. Yang paling disayangkan adalah karena bunuh diri.

    Menurut Yama Purana tattwa, kematian yang wajar disebut sebagai pati, sedangkan kematian karena kecelakaan, bencana atau karena binatang disebut salah pati. Kematian karena dibunuh atau bunuh diri disebut ngulah pati. Cara-cara manusia menghadapi kematian menimbulkan pengaruh yang berbeda pada kesadaran roh setelah meninggal. Keadaan roh orang yang meninggal secara wajar berbeda dengan roh mereka yang meninggal karena kecelakaan atau karena bunuh diri. Lontar Yama Purana Tattwa memberikan kategori jenis-jenis kematian tersebut dan menguraikan keadaan roh seseorang jika meninggal dengan cara tertentu.

    Lontar Yama Purana Tattwa adalah kumpulan dialog antara Dewa Yama, penguasa kematian, dengan para rsi agung di Janaloka. Lontar ini juga menyebutkan kematian akibat tanah longsor, yang harus dibuatkan sebuah upacara khusus agar roh yang meninggal tidak berubah menjadi preta, atau hantu. Lontar ini juga menyebutkan urutan upacara kematian bagi orang yang meninggal secara wajar dan tidak wajar.

    Direct transcription/translation


    Bahasa Kawi/Kuno

    Om Awighnam Astu ! Iti Sastra Yama Purana Tatwa, ngaran, /Indik sakramaning wwang mati mapendhem, / Yan atahun, dwang tahun, tigang tahun, /Petang tahun, mwang salawase nora maprateka, /Yaning wawu satahun maprateka, /Tan hana wighnan Sang Hyang Hatma, /Nanghing wwange mati bener. /Yan Iiwaring satahun, atmanya matmahan dete, /Tonyan setre, manas ring desa – desa, /Anggawe gring, mangkana halanya...

    In English

    Hopefully there is no obstacle on the blessings of the Lord. This is the teaching of Yama Purana Tattwa which discusses the treatment of people who die and are buried in one year, two years, three years, four years and forever. If the death ceremony is conducted within a year after death, the person's spirit does not experience interference as long as he dies naturally. If more than a year one is not given a death ceremony, his spirit degenerates into a ghost that inhabits the grave, haunts the villagers and causes an outbreak. That is the bad result.

    In Balinese

    Mogi tan kapiambeng antuk pasuwecan Hyang Widhi. Niki ajah-ajahan Yama Purana Tattwa sane maosin indik tata laksana majeng ring anake pejah lan kapendem selami awarsa, kalih warsa, tigang warsa, petang warsa lan salawasnyane. Yaning upacara atiwa-tiwa kalaksanayang tan langkung awarsa sasampune ipun seda, atmannyane nenten pacang nemu kapialangan yaning ipun seda sakadi lumrah. Yaning langkungan saking awarsa nenten kaaturang upacara atiwa-tiwa, atman ipun nyerod dados preta utawi bhuta sane nongos ring setra, nakut-nakutin para wargine tur ngawe grubug. Punika pala kaone.

    In Indonesian

    Semoga tidak ada alangan atas karunia Tuhan. Inilah ajaran Yama Purana Tattwa yang membahas perlakuan terhadap orang yang meninggal dan dikubur dalam satu tahun, dua tahun, tiga tahun, empat tahun dan selamanya. Jika upacara kematian dilakukan dalam waktu setahun setelah meninggal, roh orang tersebut tidak mengalami gangguan asalkan dia meninggal secara wajar. Jika lebih dari setahun tidak diberikan upacara kematian, rohnya merosot menjadi hantu yang menghuni kuburan, menghantui warga desa dan menyebabkan wabah. Itulah akibat buruknya.

    Index