- Title of Work
- Purwa Sanghara
- Type
- ⧼IdentificationMap-Geguritan⧽
- Photo Reference
- Location
- Pamecutan, Denpasar
- Credit
- I Gusti Ngurah Made Agung
- Reference
- Background information
Summary
In English
Geguritan Purwa Sanghara tells about the advice of the struggle against the Dutch. This geguritan uses the example of the event of the destruction of the Yadu dynasty and the death of the cruel king Kangsa. Here, I Gusti Ngurah Made Agung uses an alliterative figure to represent the Dutch as a giant who wants to attack dharma during the Kaliyuga era.
This Geguritan was his last work before he died on September 20, 1906 in front of Puri Denpasar. He persistently fought until the end against the Dutch troops who wanted to take over Denpasar (Badung region at that time).In Balinese
Gaguritan Purwa
Geguritan
Geguritan
In Indonesian
Geguritan Purwa Sanghara mengisahkan tentang petuah-petuah perjuangan melawan Belanda. Geguritan ini menggunakan contoh peristiwa hancurnya bangsa Yadu dan tewasnya raja Kangsa yang kejam. Di sini, I Gusti Ngurah Made Agung menggunakan majas aliterasi untuk mengibaratkan Belanda sebagai raksasa yang ingin menyerang dharma pada zaman Kaliyuga.
Geguritan ini adalah karya beliau yang terakhir sebelum beliau tewas pada 20 September 1906 di depan Puri Denpasar. Beliau dengan gigih bertempur hingga akhir melawan pasukan Belanda yang ingin menguasai Denpasar (wilayah Badung kala itu).Text Excerpt
Bahasa Kawi/Kuno
In English
In Balinese
Malih
In Indonesian
Index
Enable comment auto-refresher