Sabatan Biu

Perang pisang.jpg
Holiday or Ceremony
Sabatan Biu
Related books
    Related children's books
      Related folktales
        Related lontar
          Related places
            Calendar
            • Pawukon:
            • Sasih
            Dictionary words

            Information about Holiday or Ceremony

            Sabatan Biu
            Sabatan biu.jpg

            Where did this ceremony take place:


            In English

            In Balinese

            In Indonesian

            Mesabatan Biu/Siat Biu (Perang Pisang).

            Ritual perang pandan di Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, ujung timur Bali, menjadi atraksi wisata yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Meski demikian, sebenarnya Tenganan tidak hanya punya tradisi khas perang pandan sebagai bagian dari tradisi desa Baliaga. Ada pula mesabatan biu (perang pisang) yang tak kalah menarik dan tetap sarat makna. . Siat Biu ini dilakukan dalam rangka melakukan pemilihan ketua dan wakil ketua kelompok pemuda di desa ini. Tujuannya ialah untuk melakukan tes dan uji mental kepada para calon yang akan menjadi pemimpin desa setempat. Mereka harus lulus ujian dalam tradisi ini jika ingin “karier”-nya sebagai tokoh pemuda di Tenganan berjalan dengan mulus. Guna mempersiapkan fisik dan mental seorang calon pemimpin, warga Desa Tenganan Dauh Tukad, Karang Asem, Bali, menggelar tradisi Siat Biu (Perang Pisang). Dalam tradisi tersebut, pemuda calon pemimpin harus siap melakukan siat biu melawan para pemuda desa lain. Tradisi tahunan itu dilakukan sejak pagi. Warga di desa itu melakukan berbagai persiapan. Dan para pemuda wajib menyiapkan 20 butir kelapa dan sesisir pisang, tanpa dibantu orang lain. Setelah siap, kelapa dan pisang dipanggul sebagai bentuk syukur atas panen hasil bumi yang nantinya akan disumbangkan ke desa. .

            Maka, perang pun dimulai saat calon pemimpin itu tiba di desa. Calon dan penampih atau calon ketua dan wakil ketua pemuda akan menjadi sasaran lemparan pisang dari pemuda-pemuda desa. Jika ada yang jatuh, maka denda seharga buah yang jatuh harus dibayarkan. Usai perang, acara makan bersama (megibung) pun dilakukan. Hal ini dimaksudkan, untuk menjaga keharmonisan di antara warga. Melalui tradisi siat biu (perang pisang), warga berharap, pemuda desa siap mengembang tugas berat sebagai pemimpin pemuda. Bahkan, ia siap menjadi tokoh adat yang mampu menjaga keutuhan desa.


            Bu Ana


            www.instagram.com/buana_photography

            Property "Holiday information text id" (as page type) with input value "Mesabatan Biu/Siat Biu (Perang Pisang).

            Ritual perang pandan di Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, ujung timur Bali, menjadi atraksi wisata yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Meski demikian, sebenarnya Tenganan tidak hanya punya tradisi khas perang pandan sebagai bagian dari tradisi desa Baliaga. Ada pula mesabatan biu (perang pisang) yang tak kalah menarik dan tetap sarat makna. . Siat Biu ini dilakukan dalam rangka melakukan pemilihan ketua dan wakil ketua kelompok pemuda di desa ini. Tujuannya ialah untuk melakukan tes dan uji mental kepada para calon yang akan menjadi pemimpin desa setempat. Mereka harus lulus ujian dalam tradisi ini jika ingin “karier”-nya sebagai tokoh pemuda di Tenganan berjalan dengan mulus. Guna mempersiapkan fisik dan mental seorang calon pemimpin, warga Desa Tenganan Dauh Tukad, Karang Asem, Bali, menggelar tradisi Siat Biu (Perang Pisang). Dalam tradisi tersebut, pemuda calon pemimpin harus siap melakukan siat biu melawan para pemuda desa lain. Tradisi tahunan itu dilakukan sejak pagi. Warga di desa itu melakukan berbagai persiapan. Dan para pemuda wajib menyiapkan 20 butir kelapa dan sesisir pisang, tanpa dibantu orang lain. Setelah siap, kelapa dan pisang dipanggul sebagai bentuk syukur atas panen hasil bumi yang nantinya akan disumbangkan ke desa. .

            Maka, perang pun dimulai saat calon pemimpin itu tiba di desa. Calon dan penampih atau calon ketua dan wakil ketua pemuda akan menjadi sasaran lemparan pisang dari pemuda-pemuda desa. Jika ada yang jatuh, maka denda seharga buah yang jatuh harus dibayarkan. Usai perang, acara makan bersama (megibung) pun dilakukan. Hal ini dimaksudkan, untuk menjaga keharmonisan di antara warga. Melalui tradisi siat biu (perang pisang), warga berharap, pemuda desa siap mengembang tugas berat sebagai pemimpin pemuda. Bahkan, ia siap menjadi tokoh adat yang mampu menjaga keutuhan desa." contains invalid characters or is incomplete and therefore can cause unexpected results during a query or annotation process.