I Tabuan teken I Nyawan

Location
Event
Tabuan teken Nyawan ngae umah
Dictionary words

    Summary



    In English

    In Balinese

    Kacerita, I Tabuan teken I Nyawan matimpal jemet ajake dadua. Di alase ia idup ajak kedis, kekupu, kekawa, tur beburon tiosan. Sedek dina anu, I Tabuan teken I Nyawan tusing ngelah umah anggo tonggos medem, ditu ia ngalih umah. Lan tepukine lantas goa ane gede lan linggah. Ditu I Tabuan teken I Nyawan manonggos sadina-dina. Kacerita suba tusing nyak melah anggo tonggos ngoyong, I Tabuan teken I Nyawan matakon ngajak I Kekawa, kekenang carane ngae umah ane luung tur tis rikala pedemin. Ditu suba I Kekawa ngajain Tabuan teken Nyawan ngae umah.

    In Indonesian

    Dikisahkan di bangunan rumah Pan Cangklung ada tawon buat sarang. Sarangnya sangat besar. Si Tawon sangat bangga dengan rumahnya, dia pun jadi sombong. Saat ini, si Tawong keluar sari sarangnya lalu berjumpa dengan si Kucing.

    “Hai Tawon, kamu mau kemana?” Tanya Kucing. Si Tawon menjawab dengan congkak. “He kucing, aku ada urusan keluar, mencari bahan untuk memperindah sarangku. Sarangku sangat besar, tak ada yang bisa menandingi keindahannya.” Setelah menjawab pertanyaan si Kucing, si Tawon terbang menjauh dengan wajah sombongnya. Di jalan ia berjumpa si Kelinci. Melihat si Tawon terburu-buru, si Kelinci pun bertanya. “Duh, ngebut sekali terbangmu, kawan. Mengapa kau terlihat terburu-buru. Mau kemana?” “Aku pergi mencari bahan-bahan yang indah dan menyilaukan untuk menghiasi rumahku. Kamu bisa buat rumah semewah rumahku? Jika tak bisa, sampaikan saja, kalua aku ada waktu, aku bersedia mengajarkanmu buat rumah semegah istana. Sekarang minggirlah, aku buru-buru!” Usai menjawab pertanyaan si Kelinci, si Tawon pergi tanpa pamit. Kelinci ingin menyampaikan perilaku si Tawon yang sombong kepada si Kucing. “He Kucing, kok si Tawon sombong sekali ya. Bicaranya ga sopan dan meremehkan teman-temannya. Dia juga sering merusak milik kita. Aku ingin mengadukannya kepada Pak Cangklung,” begitu keluh kesah si Kelinci kepada si Kucing. Sang surya perlahan tenggelah di ufuk barat, Pak Cangklung pulang dari kebun. Sebuah arit terselip di pinggang, dia juga menenteng oleh-oleh untuk si Kelinci dan si Kucing peliharaannya. Si Kucing dan si Kelinci berlari menyambut majikannya. Bahagia sekali Pak Cangklung melihat hewan-hewan peliharaannya. Usai mandi, Pak Cangklung duduk di beranda sambil minum kopi. Si Kelinci dan si Kucing lalu mendekati. “Pak, ada yang ingin saya tanyakan. Bapak mau mendengarkan??” “Baiklah, katakana saja yang ingin kalian tanyakan!” “Begini pak, di bangunan itu ada tawon sedang buat sarang. Dia selalu menyombongkan dirinya. Bahkan dia sering merusak milik kami,” keluh si Kelinci. Mendengar pengaduan si Kelinci dan si Kucing seperti itu, Pak Cangklung marah lalu mengambil sebilah kayu untuk menonjok sarang si Tawon. Saat itu si Tawon belum datang. Setelah Pak Cangklung menyalakan obor, si Tawon datang. Dia lalu masuk ke sarangnya. Dia terkejut melihat sarangnya hancur lebur. Erang keneh ipune tur sahasa nyander-nyander sakancan ane tepukina. Si Tawon marah dan menyerang siapa saja yang dilihatnya. “Oh, kau terlalu berani di rumahku,” gerutu Pak Cangklung lalu mengambil sapu lidi dan memukul si Tawon. Si Tawon tersungkur mati kena pukulan.

    Si Kucing dan si Kelinci hanya melihat dari kejauhan, mereka tak berani mendekat karena takut disengat tawon. “Nah, rasakan sekarang, kamu mampus karena perilakumu yang buruk dan merasa diri paling hebat,” ucap si Kelinci dan si Kucing.
    Inbound7318252117914106721.png