Pesedahan

Nyambutin.jpg
Name of Place
Pesedahan
Reference
Lontar
Events
Folktales
Biographies
Children's Books
Books
Holidays and Ceremonies
Dictionary words

    Information about place

    Sejarah Desa Pesedahan dalam keterkaitannya dengan keberadaan desa di sekitarnya

    In English

    ​Pesedahan is a small village in Karangasem district, East Bali.

    Its history connects the village to the neighbouring villages of Tenganan Pegringsingan and Tenganan Dauh Tukad. One of its ceremonies (on Manis Galungan every 210 days) takes place in the "Rambut Petung" temple and is celebrated together with those neighbouring villages.

    During their yearly Usaba Sambah the ritual specific to this village is "nyambutin" when about 2 meter high offerings - made of fruit and grilled chicken - are brought to the temple and placed in the forecourt. The offerings are dedicated to each baby born the past year.

    In Balinese

    In Indonesian

    Dalam lontar Babad Rusak De Dukuh dan Gegaduhan Desa Tenganan Pesedahan menyebutkan, ada tiga komplek Tenganan yakni Tenganan Dauh Tukad, Tenganan Pesedahan dan Tenganan Pagringsingan, menyatu dalam satu kiblat penyungsungan untuk mepahayu di Pura Rambut Petung yang ada di wilayah Desa adat Pesedahan sekarang.

    Menurut babad, dikisahkan sekitar abad 17 saat kejayaan I Gusti Ngurah Sidemen, penguasa tanah perdikan setempat Dukuh Mengku yang sakti tinggal di Tenganan Dauh Tukad memiliki satu putra, atas titah Dalem Gelgel putranya diminta untuk menjadi juru kurung.

    Namun Dukuh Mengku menolak karena merasa hanya memiliki satu putra yang akan meneruskan keturunannya. Atas penolakan itulah Dalem Gelgel marah dan mengutus I Gusti Ngurah Sidemen (Mangku Basukih) menjalankan perintah Raja. Bersama I Gusti Ngurah Abiantimbul, I Gusti Ngurah Sidemen didukung prajurit menyerang Dukuh Mengku dari arah selatan. Banyak rakyat Dukuh Mengku tewas dalam perang hebat hingga di wilayah tegal penangsaran (nama dalam babad), Lapangan Pakuwon Desa Pesedahan sekarang.

    Rakyat Dukuh Mengku akhirnya kalah, Dukuh Mengku pun berfikir lalu membersihkan diri berpamitan seraya tangkil menyembah ke Pura Rambut Tiding, mohon pamit kepada Ida Sesuhunan untuk melakukan perang puputan. Usai sembahyang lalu berpakaian serba putih turun ketimur melewati Tukad Pesedahan tiba di Lapangan Pakuwon, Dukuh Mengku direbut oleh I Gusti Ngurah Sidemen dan I Gusti Ngurah Abiantimbul hingga tewas. Sisa rakyat Dukuh Mengku lari tunggang langgang mengungsi ke bukit sebelah barat dan berbagai arah.

    Kekalahan Dukuh Mengku dilaporkan kepada Dalem Gelgel. Lalu diperintahkan agar krama yang masih ada diberikan hak istimewa tidak dikenakan cecamputan kepada penduduk di Dauh Tukad dan tidak mengambil istri untuk raja, yang selanjutnya diteruskan oleh trah raja yang memerintah di Karangasem, tradisi itupun berlangsung sampai sekarang.

    Setelah itu Raja Dalem Gelgel memerintah I Gusti Ngurah Tenganan untuk menata dan membangun desa lokasi peperangan di Tenganan Pesedahan karena teringat akan kewajiban Mapahayu di Pura Rambut Petung sebagai salah satu penyungsungan Raja yang perlu diperhatikan. Sedangkan di Dauh Tukad diperintahkan oleh I Gusti Ngurah Sidemen anak I Made Mencur bernama I Made Bendesa ditugaskan melaksanakan pemerintahan dan aci-aci di Pura-Pura setempat termasuk di Pura Petung.

    Budaya campuran yang ada di Desa Tenganan Dauh Tukad atas pengaruh dua masa berbeda tradisi Hindu pra Majapahit dan tradisi Hindu Majapahit masih terpelihara hingga kini. Bahkan untuk perhitungan waktu sasih menggunakan perhitungan waktu seperti yang berlaku di Desa Baliaga Tenganan Pagringsingan. Picture Keberadaan Pura Rambut Petung ​ Menurut Prasasti Leden bertahun 1631, Pura Rambut Petung memiliki kaitan dengan Raja Karangasem. Dimana pura ini merupakan emponan dan penyungsungan Raja Karangasem. Pernyataan tersebut diperkuat dengan prasasti Dalem Pasuruan yang bertahun sama. Keberadaan Pura tersebut sempat terbengkalai ketika terjadi pergolakan kaum Bali mula dengan penguasa Kerajaan Gelgel di masa itu. Seusai perang dengan kekalahan Bali mula, diperintahkanlah utusan yang kini menjadi warga setempat untuk mengurus dan mepahayu di Pura tersebut.

    Pura yang juga disungsung Raja Karangasem ini memiliki bangunan pelinggih utama berupa Meru Tumpang Solas. Bangunan ini diyakini sebagai stana Ida Betara Gede Lingsir Rambut Petung dengan pretime berbentuk apilan.

    Menurut Jero Mangku Gede Nengah Sujati, keberadaan sesuhunan di Pura itu diyakini merupakan pusat penyatur desa, dimana putra-putra beliau disungsung di desa adat Sengkidu, Nyuhtebel dan Tenganan Dauh Tukad. Selain ketiga desa tersebut juga disungsung desa Perasi, Selumbung dan Ngis.

    Versi lain menyebutkan, keberadaan pura ini adalah rangkaian ekspedisi sehingga masih kuat disungsung hingga sekarang. Hal ini terkait dengan keberadaan raja-raja dimana hubungan keterkaitan antar kerajaan di masa lalu ada terdapat hubungan geneologis ataupun riwayat sejarah kerajaan.

    Keberadaan penyungsungan Betara Gede Lingsir Rambut Petung yang diiringi oleh penyungsungan lainnya, seperti Ida Betara Gede Jaksa, Ida Betara Ayu Mas, Ida Betara Ayu Batur, Ida Betara Bagus Ujung, Ida Betara Bagus Sega, Ida Betara Bagus Bebukit, Betara Ratu Pasek Gelgel dan Betara Ratu Pasek Tangkas.

    Penghulu desa adat, Mangku I Gusti Ngurah Ginatra menyatakan, keluarga puri selalu datang menghaturkan sembah dipura ini.

    Drs. Anak Agung Ngurah Agung, MM, salah satu keturunan Puri Karangasem mengatakan, karena demikian banyak penyungsungan yang ada di Wilayah Karangasem yang dimasa lalu merupakan emponan Raja, kini wajib dijaga dan dilestarikan keberadaannya oleh masyarakat pengempon.


    http://pesedahan.weebly.com/


    Ketut Purnawata