Lambihang - Pendahulan

Anak-anak Zaman Sekarang

"Nggak bisa dipanjangin sedikit celananya, Luh? Risih sekali mata Ibu melihatnya. Itu bekas bisulmu di bokongmu kelihatan!" Měn Sribek marah melihat anaknya berpakaian tidak pantas sekali. Celana pendek sepaha, baju singlět ketat tipis seperti saringan santan, payudaranya I Luh terlihat tumpah. Kalau sebatas di dalam rumah, ia tidak akan mengurusinya. Duh... ini keterlaluan mau pergi keluar. Terlalu seperti dicungkil rasanya mata ibunya melihatnya.

Anaknya hanya senyam-senyum, pura-pura tidak mendengar. Sedang asyiknya menundukkan kepala memencet-mencet hape. Mungkin sudah selesai mengunggah status di facebook, baru kemudian I Luh menjawab. "Ibu tidak mengerti. Memang begini sekarang kebiasaan zaman sekarang. Masak saya Ibu suruh pergi keluar dengan berkain sarung seperti Ibu begitu? Isssh... Amit amit. Ga dech! Ěh, agar Ibu tahu, ya, ini namanya gaya berpakaian kids jaman now!" Ibunya bengong tanpa menjawab. Wah, mungkin ia suba terlalu tua, jarang keluar, hingga benar-benar jauh ketinggalan zaman. "Apa yang dinamakan begitu? " Bertanya ibunya, pandangannya kosong. " Kids itu artinya anak anak, Bu. Now itu artinya sekarang, kini, saat ini! Kids jaman now artinya anak anak masa kini, Buu!" Alah... jawaban I Luh seperti guru SD mengajari murid yang paling bodoh. Ibunya diam. Kosong matanya mengamati anaknya pergi berboncengan motor mendekap pinggang pacarnya.

Tiba-tiba datang suaminya dari sawah, mungkin berpapasan dengan I Luh di jalan. Dari pintu gerbang pekarangan, dengan nada kasar dan keras ia bertanya. "Orang ke mana I Luh pergi? Pakaiannya... Aduuh... sehelai, sekadar tertutup saja. Otaknya!" Yang perempuan menjawab, lagu bicaranya sama seperti cara I Luh tadi menjawab. "Yěěě... Bapak tidak tahu apa-apa. Memang begitu kebiasaan zaman sekarang, Paaaa...! Itu namanya gaya pakaian kid kid jaman nao. Tahu, Bapaaaak? " Suaminya terkaget mendengar bicaranya itu, tangkai cangkul di pundaknya melenggang jatuh. "Kepalamu! Pembersih pantat dipakai pakaian?!..pantas hanya secarik begitu. Aduuh... otaknya I Luh! " Tidak ada yang menjawab. Ia sendiri bingung, sambil bibirnya komat-kamit menggerutu, cangkulnya jatuh menimpa mata kakinya.

Suteja Narendra, Suara Saking Bali, https://www.facebook.com/Suarasakingbali/