IGB Sugriwa's Model of Translation in Kakawin Rāmatantra: The Effort to Continue the Springs Of Literature to Various Eras

20230125T041056795Z178306.png
Title of article (Indonesian)
Model Terjemahan IGB Sugriwa dalam Kakawin Rāmatantra: Usaha Mengalirkan Mata Air Sastra ke Berbagai Telaga Zaman
Title of article (Balinese)
-
Original title language
English
Title (other local language)
Author(s)
Subjects
  • IGB Sugriwa
  • literature
  • translation model
Title of Journal
Kalangwan, Jurnal Pendidikan, Agama, Bahasa, dan Sastra
Volume and Issue number
12,2
Date of Publication
Page Numbers
1-12
Link to whole article
http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/kalangwan/issue/view/124
Related Places
    Related Holidays
      Related Books
        Related Lontar


          You are not allowed to post comments.

          Abstract


          In English

          Translating is one of the pinnacles of IGB Sugriwa's skills which are now increasingly rare. Therefore, this article aimsto discuss two things,: (1) tracing the translated works produced by IGB Sugriwa; (2) the translation model developed by IGB Sugriwa in the Kakawin Rāmatantra. To achieve this goal, this article uses the methods of providing data, analyzing data, and presenting the results of the analysis. At the stage of providing data, observation and interview methods were used to find the translated works of IGB Sugriwa. Furthermore, IGB Sugriwa's translations were classified according to genre and Kakawin Rāmatantra was analyzed to find the translation model developed by IGB Sugriwa. Based on this analysis, this article finds that IGB Sugriwa has translated 13 literary works. Translated works are included in literature such as Kakawin Dharma Shunya (1954), Kakawin Sutasoma (1956), Bharata Yuddha (1958), Kakawin Ramayana (1960), Kakawin Arjuna Wiwaha (1961) and Kakawin Rāmatantra(t.t). Meanwhile, the translation works included in the speech are Sang Hyang Kamahayanikan (1957) and Sarasamuccaya (1967). Meanwhile, IGB Sugriwa was also quite productive in translating texts related to traditional Balinese historiography across clans such as the Babad Pasek (1957), Babad Blahbatuh (1958), Dwijendra Tattwa (1967), Babad Pasek Kayu Selem (tt), and the Pande Inscription. (tt). The translation model developed by IGB Sugriwa in the Kakawin Rāmatantrais formulated into four stages, namely (1) kosabasa (vocabulary); (2) kretabasa(grammar), (3) bhasita paribhasa (language style); and bhasita mandala (cultural context).

          In Balinese

          In Indonesian

          Menerjemahkan merupakan salah satu puncak keterampilan IGB Sugriwa yang kini semakin langka. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk membahas dua hal, yaitu: (1) menelusuri karya terjemahan yang dihasilkan oleh IGB Sugriwa; (2) model penerjemahan yang dikembangkan oleh IGB Sugriwa dalam Kakawin Rāmatantra. Untuk mencapai tujuan tersebut, artikel ini menggunakan metode penyediaan data, analisis data, dan penyajian hasil analisis. Pada tahap penyediaan data, digunakan metode observasi dan wawancara untuk menemukan karya terjemahan IGB Sugriwa. Selanjutnya, terjemahan IGB Sugriwa diklasifikasikan menurut genre dan Kakawin Rāmatantra dianalisis untuk menemukan model terjemahan yang dikembangkan oleh IGB Sugriwa. Berdasarkan analisis tersebut, artikel ini menemukan bahwa IGB Sugriwa telah menerjemahkan 13 karya sastra. Karya-karya terjemahan termasuk dalam karya sastra seperti Kakawin Dharma Shunya (1954), Kakawin Sutasoma (1956), Bharata Yuddha (1958), Kakawin Ramayana (1960), Kakawin Arjuna Wiwaha (1961) dan Kakawin Rāmatantra(t.t). Sedangkan karya terjemahan yang termasuk dalam pidato tersebut adalah Sang Hyang Kamahayanikan (1957) dan Sarasamuccaya (1967). Sementara IGB Sugriwa juga cukup produktif menerjemahkan teks-teks yang berkaitan dengan historiografi tradisional Bali lintas marga seperti Babad Pasek (1957), Babad Blahbatuh (1958), Dwijendra Tattwa (1967), Babad Pasek Kayu Selem (tt), dan Prasasti Pande. (tt). Model penerjemahan yang dikembangkan oleh IGB Sugriwa dalam Kakawin Rāmatantrais dirumuskan menjadi empat tahap, yaitu (1) kosabasa (kosa kata); (2) kretabasa (tata bahasa), (3) bhasita paribhasa (gaya bahasa); dan bhasita mandala (konteks budaya).