Bladbadan - Pendahulan

Asiah dan Yanto baru lima bulan merantau ke Karangasem. Bermodal keberanian, hidup berdua di bumi Karangasem. Sial, baru sebulan menjadi buruh angkut pasir, dia sudah menganggur kembali. Galian tutup, katanya Gunung Agung Akan meletus. Sudah jatuh tertimpa tangga, begitu pribahasa mengatakan. Yanto dan istrinya diarahkan mengungsi oleh pemerintah. Karena tempat tinggalnya berada pada kawasan rawan bencana III. Tidak mempunyai saudara, tidak mengenal siapa-siapa, akan pulang kampung tak punya uang. Dirinya gemetar, antara takut dan berani berangkat mengungsi bila ingat dia hanya seorang minoritas. Parahnya lagi tidak bisa berbahasa Bali. Diceritakan sudah sampai di pengungsian. Bersuara kletit-kletit HP Yanto memberi tanda waktunya Sholat Magrib. Tak tenang perasaan Yanto dan Asiah, mengeluh mencari tempat sembahyang. Semua orang mondar mandir. Lalu Ia melihat seseorang dengan baju bertuliskan relawan. Segera Yanto memanggil "Pak relawan, pak relawan," "Ia kenapa Pak?" "Maaf saya tifamengeryi Bahasa Bali, saya mau bertanya dimana ada tempat Sholat ya?" Relawan hanya mengangguk, lalu berlari kesana kemari memanggil temannya. Sedih sekali perasaan Yanto, menyesali keputusannya merantau ke karangasem. Merasa mendapat perlakuan tidak adil Berbalik lalu ia menuju ke tempat istrinya. Belum mendarat injakan kaki Yanto, tiba-tiba ia dipanggil oleh relawan . "Pak, pak maaf ya..." Belum selesai kata-kata relawan, Yanto sudah menjawab. "Ia tidak apa-apa" lalu pergi. "Oh baik pak, tempatnya ada di belakang ya pak, sudah kami siapkan . Mendengar itu , Yanto terisak menangis. Walaupun ia pendatang, relawan tidak pilih kasih. Senang sekali perasaan Yanto dan Asiah Sekarang ia sangat betah disana a. Belajar bahasa dan budaya Bali. Banyak mempunyai teman. Bahagia sekali.

oleh Yunda Ariesta