Becat - Pendahulan

JIKA GUNUNG AGUNG MELETUS, KITA BAGAIMANA?

Untuk warga Bali, agar semuanya selamat dan sentosa. Hasil karya dari generasi muda Bali.

“Hei, Nek, Nek,Nek, dengarkan dulu, Nek. KRB yang paling bahaya itu yang merah! O, begitu. Kalau, masih berbahaya tetapi sedikit, yang…pink! Terus? Kalau..kuning masih bahaya, tetapi sedikit….”

“Oo, kalau begitu…kalau begitu Nenek hendak di..yang…kuning itu. Tidak akan kena. Aah, bukan..bukan, Nek. Bukan begitu. Yang kuning,masih tidak aman. Itu jalur lahar dingin namanya. Hahaha, lahar dingin?! Wah, pecaling (plesetan dari “pecalang”, petugas keamanan-red) tidak tahu apa! Lahar dingin? Tidak ada lahar dingin. Masuk ke kulkas dulu?? Haha, aduh, Nek. Apa yang kau katakan itu, Nek”!

“Aa, lahar dingin…, dengarkan dulu. Dengar dulu, Nek. Nah. Lahar dingin itu berisi pasir, batu-batu, lumpur, dan silika. Silika?! Apa itu silika? Silika itu seperti bahan yang licin sekali, dari gunung, dan sangat bahaya. Alirannya kuat dan cepat sekali. Aduuhh! Sewaktu Gunung Merapi meletus sampai ada desa yang hanyut, karena lahar dingin ini…ha..tahu! Aduuhh”! “Belum lagi hujan abu yang jatuh! Hujan abu? Hujan abu-abu!! Ye, sekarang ada hujan berwarna-warni! Hahaha. Nah, nah, nah, nah, nah, Nek. Nenek lucu sekali ini! Hujan abu bisa sampai setengah meter tingginya. Setengah meter??!! Aduh!!”

“Weh, Nek, Nek, Nek! Nenek masih di sini..di kawasan rawan bencana, alias KRB??! Ya bagaimana? Ah, tidak boleh! Wah, Kalau saat letusan dulu, itu, tahun 63, desa Nenek aman-aman saja! Kok sekarang saya disuruh mengungsi? Kalau meletus, pasti cukup waktunya untuk turun ke tempat aman. Kalau sudah ada tanda,saya akan lari, sudah! Weh, Nek, tahu tanda meletus? Ummm…belum…tapi pokoknya…akan berlari,… dengan cepat! Kalau suaminya yang sudah tua, bagaimana, Nek? Oh, dia… biarkan sudah, ia sendiri. Pokoknya Nenek akan berlari! Ah,hahaha, Super Nenek, ah?

Bisa berlari lebih cepat daripada lahar? Hah? Maksudnya apa? Kalau meletus, katanya batu-batunya kecepatannya (sebanding-red) dengan suaranya itu! Hah?! Seperti orang kentut! Hah!? Kalau mendengar suara kentut, sudah kena katanya. Bih…ya ampun, kalau begitu….sapi Nenek bagaimana? Dadong sayang sekali dengan sapinya. Kalau Nenek tidak punya sapi, tidak bisa hidup. Akan tetapi aku tidak mampu mengangkat sapinya kalau ada…apa namanya itu abu dan lahar yang tebal itu. Hmm…itu sudah, Nenek, agar sapi jadi aman, sapi Nenek bisa ikut diangkut ke kandang sapi. Hah!? Beh, terlalu jauh itu! Bagaimana nanti di sana? Akankah sapi saya mendapat pakan di sana? Tidakkah nanti tidak diberi makan sapi saya? Coba bicara sama aparat desa, Nek! Bertanya di sana, apa ada transportasi sampai di tempat aman. Tenang saja, orang disediakan pakan sapi di sana.

Kalau ditinggal mengungsi, rumah Nenek bagaimana? Tidakkah sepi? Mudah-mudahan, aman saja! Tidak ada maling. Biar makhluk halus saja yang menunggu di sana..sebentar. Eh, kalau sekolah cucunya Nenek bagaimana di sana? Di Posko, cucunya bisa ikut sekolah di sana. Kalau Nenek dan Kakek ingin tidur bersama, ada tempat spesial di sana, di posko? Wuih, beruntung sekali, Nenek. He, suaminya masih kuat, ah?

Wuih, sebenarnya ini, beritanya seram sekali. Nenek galau sekarang. Terus bagaimana? Ah ya, Nek, tidak perlu kuatir. Mari sekarang saya temani ke posko yang aman. Pada saat sekarang, napas kita paling penting! Masalah-masalah yang lain jangan pikirkan dulu. Kita menghadapi langkah demi langkah.

Nah, Nenek tidak takut dengan Gunung Agung. Akan tetapi Nenek berbakti pada Gunung Agung. Sebenarnya, saya takut kalau tidak bisa balik ke Gunung Agung. Saya tidak berniat memindahkan Gunung Agung! Saya juga tidak berniat pindah dari Gunung Agung. Tidak apa-apa saya mengungsi dulu, karena Gunung Agung menganugerahkan rejeki pada umat. Sapi-sapi, seadanya terima dulu, mengungsi dulu, ya! Kalau Gunung Agung sudah aman, kita bersama-sama pulang, ya? Aduh, sapi-sapi…sapi-sapi…

Bukan begitu, ya? Bukan begitu? Ya, ya, ya. Om Shanti Shanti Shanti Om.

Ingat saudara-saudara, keselamatan saudara-saudara semua ada pada diri masing-masing.