Magerengan - Pendahulan

Waktu sudah menunjukkan jam 10 malam, suara motor terdengar masuk ke rumah. Cepat-cepat Men Budi menengok lewat jendela. Terlihat De Budi turun dari sepeda motor. "Meme, kenapa belum tidur? Bukannya besok bilang tidak berjualan, kenapa lagi metanding canang?" "Tidak akan dijual, akan meme pakai merainan ngatag besok. Walaupun kita hanya punya pohon cabai, akan meme atag juga. Mengucap syukur kepada Ida" "Oh begitu, Me tadi datang dari kampus saya singgah ke toko buku. Ada buku yang saya sukai Me. Bolehkah saya minta uang tabungan Meme 50 ribu saja me?" "Belakangan beli De ya, tabungan Meme sudah habis meme gunakan untuk merainan," De Budi tidak menjawab, dengan kesal masuk ke dalam kamarnya. Men Budi lalu ke dapur, mengambil piring, berisikan nasi, sayur kelor sambal grago. "De, makan dulu," De Budi melihat isi piring, lalu menjawab "Beginilah, kita miskin karena merainan (bertanya). Sudah saya beritahu, mantra saja cukup, meme ajak modern tidak mau. Setiap hari hanya makan grago. Punya uang sedikit, sudah digunakan merainan. Kapan kita bisa perbaiki rumah," Mendengar itu Meme hanya tersenyum seraya menaruh piring. "Begini de. Beragama itu banyak jalannya. Betul yang Made bilang, ada jalan beragama lewat mantra saja. Sekarang meme bertanya, yang menghidupi kita apa? Bukankah dari hasil meme berjualan canang?" "Ia, lalu kenapa?" "Kalau semua yang De bilang berpikir modern itu, meme sudah tidak punya penghasilan, bukankah begitu?" "Cari saja pekerjaan lain, gampang itu!" "Bukan itu hikmahnya de, tidak ada Yadnya yang memiskinkan. Sebaliknya, itu yang membuat kita di Bali punya penghasilan dari menjual sarana Banten. Dari anak yang hanya tamatan SD, nenek-nenek punya bekal untuk hidup. Uang tidak hanya kita gunakan untuk bersenang-senang sendiri saja, kita berjadnya juga untuk saudara yang membutuhkan.

Oleh : Desak Made Yunda Ariesta