Putu Fajar Arcana

Fajar.jpg
Full Name
Putu Fajar Arcana
Pen Name
Link
Contributor
wjs
Work
Dictionary words

    Biography


    In English

    In Balinese

    In Indonesian

    Putu Fajar Arcana, lahir di Negara, Bali barat, 10 Juli 1965. Kini bekerja sebagai editor Kompas Minggu, bagian dari Harian Kompas di Jakarta. Ia antara lain membidani lahirnya Workshop Cerpen Kompas yang kemudian menjelma menjadi Kelas Cerpen Kompas, sejak 5 tahun terakhir. Secara lebih spesifik, Putu menjadi penjaga rubrik Cerpen Kompas Minggu, sejak 10 tahun terakhir. Ia kini menjadi sedikit dari para jurnalis yang memiliki spesifikasi peliputan tentang seni dan gaya hidup. Bahkan tak jarang Putu menjadi nara sumber dan juri dalam berbagai peristiwa dan kompetisi seni di Tanah Air.

    Selain menekuni dunia jurnalistik, ia juga bergelut langsung dalam dinamika dunia kesenian dengan menjadi penulis naskah teater monolog, sutradara, dan tim artistik pertunjukan teater. Naskah monolognya tergabung dalam buku Monolog Politik (2014). Ia kemudian menyutradarai pertunjukan monolog “Wakil Rakyat yang Terhormat” dengan aktris Sha Ine Febriyanti (2015) dan kemudian “Perempuan Dangdut”dengan aktris Happy Salma (2016). Sebelumnya ia pernah membuat Repertoar Garuda Wisnu Kencana yang dipentaskan saat ground breaking monument itu pada tahun 2013. Pertunjukan ini melibatkan 500 penari kecak serta penyanyi jazz Trie Utami, gitaris Dewa Budjana, dan seniman harpa Maya Hasan.

    Novelnya Gandamayu (2012) dipentaskan oleh Teater Garasi Yogyakarta dengan melibatkan dua sutradara muda, Yudi Ahmad Tajuddin dan Gunawan Maryanto. Pentas itu berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta, yang melibatkan aktor-aktor besar seperti Landung Simatupang, Whani Darmawan, Ayu Laksmi, dan Sha Ine Febriyanti. Petualangannya di dunia panggung dipertegas dengan pementasan “#3Perempuan, Bukan Bunga Bukan Lelaki” yang melibatkan aktris Happy Salma, Inayah Wahid, dan Olga Lydia. Putu juga menjadi tim artistik untuk seri pementasan Indonesia Kita, antara pada seri Roman Made in Bali (2016) dan Laskar Bayaran (2017).

    Lelaki yang gemar membuat sketsa ini juga telah menerbitkan beberapa buku. Buku-buku tersebut antara lain, antologi cerpen Bunga Jepun (2002), Samsara (2005), dan Drupadi (2015). Kumpulan esainya tentang Bali tergabung dalam buku Surat Merah untuk Bali (2007) dan puisi-puisinya tergabung dalam Manusia Gilimanuk (2012). Sebelumnya ia juga menerbitkan buku puisi Bilik Cahaya (1997) di Denpasar, Bali.

    Puisi-puisinya juga tersebar dalam antologi bersama seperti “Dari Negeri Poci III” (1994), “Kembang Rampai Puisi Bali” (1999), “Bali The Morning After” (2000), “Gelak Esai Ombak Sajak”(2000), “Amsal Sebuah Patung”(1996), “Bonsai’s Morning”(1996), “Malaikat Biru Kota Hobart” (2004), “Teh Ginseng” (1993), “Mahaduka Aceh”(2004), “Mimbar Penyair Abad 21 (1996), dan “Managerie IV” (2000). Cerpen-cerpennya juga termuat dalam kumpulan “Para Penari”(2002), “Waktu Nayla”(2003), dan “Sepi pun Menari di Tepi Hari” (2004).

    Bersama istrinya Joan Arcana, tahun 2011 Putu mendirikan Arcana Foundation, sebuah lembaga non-profit yang mewadahi konservasi dan advokasi di bidang kebudayaan, menggalang pertunjukan, menulis buku, dan melakukan muhibah ke berbagai sentra budaya di Tanah Air. Arcana Foundation juga menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga donor untuk menggerakkan dunia kebudayaan.

    Examples of work

    Samsara
    Samsara.jpg
    Surat Merah untuk Bali
    Surat merah.jpg
    Gandamayu
    Gandamayu--.jpg
    Drupadi
    Drupadi.jpg
    Manusia Gilimanuk
    Manusia gilimanuk.jpg